Monday, April 19, 2010

fanfic karya edna


Rei : Netbook gue!! Netbook gue sembuuuuuuuuh!! XD

BLETAAAKK

*dijitak Akira*

Akira : Berisik!!

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

Disclaimer : Akira bilang,”Warriors Orochi 2 tuh punyanya KOEI. Bukan milik Author bodoh ini…” setelah berkata begitu, ia langsung dihajar Rei si Author ampe terbang ke langit ke tujuh…

Warning : OC dan OOC!

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

Warriors Orochi Fanfic
“The Mystic Forest”
Chapter 10

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+
~+~+~+~+~+~+~



Di suatu medan pertempuran yang tanahnya ternodai merahnya darah…

Di antara banyaknya mayat-mayat yang bergelimpangan, tersungkur tak bernyawa…

Berdiri 3 orang yang berhasil bertahan hidup, memegang erat senjata masing-masing.

Satu dari 3 orang itu adalah seorang gadis. Setelah berdiri dengan tegap, akhirnya ia terduduk bersimpuh sambil menangis. Katanya,”Aku tidak tahan…aku tidak mau bertempur lagi!!!” suaranya yang terdengar begitu parau namun kencang, membuat kedua temannya serasa tercabik hatinya.

Salah seorang temannya menjatuhkan pedang besarnya, lalu segera memeluk si gadis,”Kita tidak punya pilihan, Nu Wa…ini resiko yang harus kita tanggung. Sebagai Komandan Prajurit Suci Mystic.”

“Kakak…” isak gadis itu.

“Fu Xi benar.” Kata salah seorang temannya yang satu lagi,”Kita memutuskan menjadi Prajurit Suci dengan menerima konsekuensi ini. Jika kita menang, aku akan menjadi penasehat Raja.”

“Taigong Wang…apa kamu sebegitu menginginkan posisi itu!?” bentak Fu Xi.
Dengan tenang Taigong Wang menjawab,”Sama sekali tidak. Kau pikir, aku senang membantai sebegini banyak orang!? Biarpun katanya ini Perang Suci, tapi…”

Sesaat pemuda itu terdiam.

“Tapi…aku lebih berharap aku tewas di pertempuran ini, namun insting melindungi diriku ternyata telah mengambil alih pikiranku sendiri. Fu Xi…Nu Wa…kita telah berjanji…jika tujuan kita untuk menjadikanku petinggi Dunia Mystic adalah untuk menghentikan perang yang tak berkesudahan ini. Tapi sekarang aku berpikir…”

Fu Xi dan Nu Wa membisu.

“Kupikir lucu sekali…seorang strategiest perang sepertiku, ingin menghentikan perang yang menjadi pekerjaannya…tidak apa…asalkan tanganku tidak mengambil nyawa lagi…” kata Taigong Wang lagi, seraya memandang langit yang hitam di atasnya. Tidak lama kemudian, turunlah hujan yang membasahi mereka bertiga, membersihkan noda-noda darah di tubuh mereka…



~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

Some are scared others killing for fun. I shot a mother right in front of her son.
(Take this from my consciousness, and please erase my dream)


~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

BRUUUKK!

“Taigong Wang!” seru Zhao Yun menghampiri.

“Aduduh…” rintih si rambut putih bishie itu sambil memegangi hidungnya yang tepat mencium tanah.

“Tidak apa-apa?”

“Yah…maaf, aku tersandung batu.”

“Ternyata mystic bisa kesandung juga, ya.” Kata Lu Bu dengan nada nyindir. Yukimura langsung nendang pantatnya.

“Apaan sih!?” bentak Lu Bu sambil berbalik ke Yukimura.

“Kata-kata lu itu tau! Sebaiknya lu jaga!” kata Yukimura pundung.

“Heh!! Berani, ya!!”

“Mati lu!!”

BUGG BUAKH DUAKH GUBRAK KROMPYANG MEOONG~

Yang lain Cuma sweatdrop ngeliat Lu Bu VS Yukimura. “Dasar, mereka itu…” kata Zhao Yun. Taigong Wang Cuma ketawa kecil.

“Kamu kenapa sih? Kakimu emang jalan tapi matamu kosong.” Tanya Zhao Yun.

“Eh? Ah…tidak apa-apa. Cuma…teringat masa lalu.” Jawab Taigong Wang tersenyum, seolah menandakan tidak ada apa-apa. Ia pun kembali berjalan,”Pada dasarnya, manusia mystic dan manusia biasa itu sama. Yang membedakan, kami punya kekuatan sihir dan umur yang jauh lebih panjang.”

“Be…begitukah?”

“Ya…”

“kalau begitu…berapa umurmu?”

Taigong Wang berbalik badan sambil senyum ala uke,”Baru 190 tahun kok.”

“WHAT!!??” anak-anak pada kaget,”Se…sepuluh kali lebih tua dari kami!!? Tidak…bahkan lebih tua!!”

“Yap. For your info, wujudku masih begini semenjak 50 tahun lalu.”

Sekarang anak-anak ini mulai berpikir,”Wujudnya saja yang muda, tapi sebenarnya udah kakek-kakek!!!”

Taigong Wang ngelanjutin jalannya,”Aku tahu apa yang kalian pikirkan, para bocah…tapi aku ini benar-benar masih muda. Di Dunia Mystic, 190 tahun itu masih terbilang remaja!”

DUEEEEERRR!!!

Anak-anak bergumam di belakangnya,”Sial…gua juga mau deh jadi mystic!!”

Tiba-tiba Yoshitsune berlari ke depan. Katanya,”Ayo!! Kita sudah dekat dengan Hutan Utara!!”

Mendengar itu, yang lain langsung berlari. Saat lari, mendadak Taigong Wang merasakan sesuatu dan berhenti,”Ini…!”

Anak-anak juga ikut berhenti,”Ada apa!?”

“Semuanya…hati-hati!!”

TRAAAANG!!

Sesaat kemudian, dalam sekejap mata, Taigong Wang sudah menahan suatu serangan dengan pancingannya. Anak-anak semuanya terkejut,”Su…Sun Wukong!!!”

“Akhirnya kau menampakkan diri juga…” kata Taigong Wang sambil menahan tongkatnya siluman monyet itu.

“Hehehe…lebih baik kalian perhatikan sekeliling.” Kata Sun Wukong. Secara mengejutkan, tiba-tiba hutan terbakar. Dan lalu muncullah pasukan Sun Wukong yang sangat banyak, mengepung Taigong Wang dll.

“Sial…kita terkepung!” Zhao Yun menyiapkan senjatanya.

“Hehehe…asal kalian tahu…api ini bukan api biasa. Ini api yang kucampur dengan sihir! Aura panasnya akan mengambil energy kalian hingga kalian tidak bisa bergerak dan akhirnya, kalian akan mati terbakar.”

“Cih!!” kali ini Taigong Wang bingung. Ia harus memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini. Apakah ini akhir yang menyedihkan untuk mereka?

***

Sementara itu, pertempuran yang jauh lebih besar terjadi di kota A. Di sinilah sebenarnya penentu apakah akhirnya Gerbang Neraka berhasil dibuka atau tidak. Jika para mystic yang diutus itu kalah, maka kota akan jatuh ke tangan Orochi, dan…habis sudah.

“Bagaimana ini?” Tanya Dhong Zhuo.

“Rupanya, hanya perutmu saja yang banyak isinya, otakmu tidak?” kata Sima Yi ketus.

“Ngajak berantem!?”

“Sudah sudah, kalian berdua.” Tegur Keiji Maeda.

“Ini bisa jadi gawat. Jumlah mereka lebih banyak dari kita.” Gumam Kotarou Fuma.

“Hei, Fuma! Jadi kau takut hanya karena jumlah!?” seru Keiji.

“Tidak…hanya saja mustahil melawan mereka semua, hanya dengan kekuatan kita saja…” Kotarou pun mengucapkan mantera. Tangannya bersinar, lalu dihantamkannya ke tanah. Dalam sekejap, muncullah tentara arwah yang banyak jumlahnya. “Kalau pasukan iblis ini, tidak akan mudah mati…karena mereka hanya arwah!”

“Hmph! Bagus juga idemu!” kata Keiji.

“Hei, messenger!” Sima Yi memanggil seseorang. Lalu, tidak lama datanglah iblis tingkat teri, salah satu dari sekian banyak pasukan Orochi yang berperan mengirim pesan di medan perang,”Katakan pada strategiest kita, Zhuge Liang dan Yue Ying tentang kondisi ini. Cepat!!”

“Baik, Tuan!” messenger itu segera berlari dengan kecepatan mengagumkan kembali ke tempat 2 anak jenius yang terpaksa terlibat di situasi ini.

“Nah…sekarang…” kata Sima Yi tersenyum sinis memandang para mystic di depannya.

“Hei, Sima…sementara ini, kaulah yang bertindak sebagai ahli strategi kita.” Kata Kotarou.

“Hm? Bukannya sudah jelas?” balas Sima Yi. “Pasukan Phantom!! Seraaaaaang!!!” ia memberi komando. Pasukan arwah itu pun langsung menyerbu para mystic.

Tepat di depan, mystic-mystic ini bersiap.

“Phantom soldier…pasukan arwah, mereka bisa menyerang kita tapi kita tidak bisa melukai mereka. Satu-satunya cara adalah mengalahkan si pembangkitnya, Kotarou Fuma itu…” kata salah satunya yang berbadan besar.

“Hmm…kalau begitu, kita ulur waktu sampai yang lain datang.” Balas seorang gadis berpayung.

“Jangan lupa. Gracia ada di tangan mereka, entah disembunyikan dimana.” Kata yang lain lagi, yang badannya agak tinggi.

Tanpa disadari, pembicaraan itu terdengar oleh Kotarou. “Jumlah mereka 7 orang…masih ada lagi!?”

***

Sementara itu, di lain tempat…bukan di hutan yang terbakar, bukan di kota yang porak-poranda. Di Kota R, tempat Zhao Yun dll tinggal. Para orang tua mulai mencemaskan anak-anaknya.

“Harusnya mereka sudah pulang…bagaimana ini ayah?” Tanya seorang ibu.

“Hm…ayah juga takut terjadi sesuatu pada Cao Pi.” Kata suaminya.

Tiba-tiba, ada dering hape. Begitu diangkat,”Halo…ini ayanya Cao Pi, Pak Cao Cao?”

“Ya…saya sendiri.” Jawab bokapnya Cao Pi.

“Ini Liu Bei, ayahnya Zhao Yun. Apakah Cao Pi sudah pulang?”

“Belum! Anak anda juga!?”

“Iya…sebelumnya saya juga sudah mendapat telepon yang bernada sama dari orang tua yang lain. Termasuk Shingen Takeda, ayahnya Yukimura. Uesugi Kenshin, ayahnya Naoe. Mereka ingin ketemuan, selain itu khawatir juga karena…anda tahu yang terjadi di Kota A kan?”

“Begitulah…bagaimana ini?”

“Kita bicarakan saja. Kita ketemuan di Hutan Kota, bagaimana?”

“Baiklah…saya segera kesana.”

Lalu, telepon ditutup.

“Ayah harus pergi mencari Cao Pi!” kata Cao Cao bergegas.

“Tunggu…mau kemana?” Tanya sang istri.

“Ke Hutan Kota. Ayah akan bicarakan ini dengan orang tua lain.” Jawabnya sambil pergi membawa mobil.

Begitu sampai di Hutan Kota, Cao Cao menghentikan mobilnya dan segera menemui Liu Bei, Shingen Takeda dan Uesugi Kenshin.

“Jadi…bagaimana?” Tanya Cao Cao tidak sabar.

“Saya sudah beberapa kali menelepon ke hape anak saya, tapi tidak bisa.” Jawab Uesugi.

“Jangan-jangan, terjadi sesuatu…mungkin mereka terjebak di Kota A begitu pulang.” Shingen menduga.

“Ini gawat! Aku akan ke sana!” kata Cao Cao.

“Tunggu dulu! Pikirkan dulu baik-baik! Kota A sekarang sudah tidak aman!” cegah Liu Bei.

“Tapi, saya juga tidak bisa membiarkan terjadi sesuatu pada Cao Pi!”

“Kami juga sama! Tapi tolong, jangan bahayakan diri anda! Ada kemungkinan sebentar lagi mereka sampai.” Bujuk Liu Bei lagi.

Cao Cao terdiam. “Tapi…saya…”

“Pak Liu Bei benar, sebaiknya jangan ada yang mendekati Kota A dulu.” Tiba-tiba ada seseorang yang bicara. Para ayah itu menengok ke sumber suara.

“Bu…Tachibana?” kata Shingen.

“Anda…wali kelas Zhao Yun, Yukimura, Kunoichi dan Masamune…Bu Ginchiyo Tachibana kan?” Tanya Liu Bei memastikan.

“Iya.”

“Bagaimana anak saya dikelas? Zhao Yun maksud saya.”

“Hmm…sudah 3 kali terlambat di pelajaran pertama, dan kebetulan itu pelajaran saya.” Jawab Ginchiyo.

“Ngh…anak itu…” Liu Bei menepuk dahinya.

“Dan anda, Pak Zuo Ci bukan? Guru matematika.” Kata Cao Cao.

“Betul.” Jawab Zuo Ci senyum.

“Anak saya? Bagaimana di kelas?”

“Bukannya bermaksud menjelekkan, tapi anak anda, anda, anda dan anda sudah sering menghilang hanya saat pelajaran saya.” Jawab Zuo Ci ke arah bapak-bapak itu. Para ayah tak berdosa langsung berpikir,”Awas aja kalau nanti mereka pulang!!”

“Dan…anda berdua?” Tanya Uesugi.

“Saya Motochika Chosoukabe, guru seni musik.” Jawab seorang guru yang gaya rambutnya emo.

“Dan saya Toshiie Maeda, guru olahraga.” Kata yang satu lagi.

“Bapak-bapak, soal anak-anak biar kami yang pastikan.” Kata Ginchiyo.

“Eh? Apa yang akan anda…”

“Tetaplah disini. Kami yang akan kesana.” Tiba-tiba muncul seorang lagi, memotong pertanyaan Cao Cao.

“Pa…Pak Mitsuhide!?”

“Ooh…yang pejabat itu ya…” kata Shingen dalam hati.

“Akan berbahaya bagi kalian. Ini tugas kami.”

“Tugas??”

“Ayo…” kata Mitsuhide seraya berjalan, diikuti oleh Ginchiyo, Zuo Ci, Toshiie dan Motochika. ”Kami akan mengusahakan yang terbaik. Sementara itu…kalau bisa, anda sekalian pergilah dari kota ini.”
Para bapak lansung bingung tanda tak mengeri. Apa hubungannya para guru ini dengan kejadian di Kota A?

Tiba-tiba Ginchiyo berbalik,“Anak kalian…kemungkinan terlibat masalah serius.”

“Maksud anda?” Tanya Cao Cao.

“Mungkin ini terdengar seperti dongeng, tapi percayalah…ini benar-benar terjadi, saat ini, detik ini!!”

***

Semuanya hening sesaat…

“HAH!!??” seru Cao Cao heran banget, ampe mulutnya pas ngomong gitu ngalahin kuda nil yang lagi nguap. *PLAK*

“Ini...bukan mimpi kan? Kita nggak hidup di dunia anime kan? Hehehe…kayak ******, ******, ****** atau **********…nggak, bagusan ****** daripada *******…” kata Liu Bei sambil nepuk dahinya lagi. Yang lain Cuma bengong ngeliatin dia kenapa bisa tau banyak soal anime di umurnya yang udah uzur.

“Hmm…agak sulit masuk diakal…” kata Uesugi sambil berusaha mencerna. “Apa ini bukan semacam pemberontakan, atau terorisme? Hal mengenai mystic ini, agak sulit dipercaya.”

“Ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan dengan akal, Pak Uesugi. Walaupun anda dokter yang handal, tapi tetap saja logika manusia itu terbatas.” Kata Ginchiyo. Tangannya bersinar, lalu dengan ajaibnya muncullah sebilah pedang di tangannya. Uesugi tercengang melihatnya.

“Kami mystic yang mempunyai tugas di dunia manusia. Supaya bisa membaur, kami bekerja seperti orang disini kebanyakan, dan kami memilih profesi guru. Begitu saat seperti sekarang tiba, baru kami akan keluar. Tapi diluar perkiraan, keadaan semakin rumit karena murid-murid kami juga ikut terlibat disini.” Kata Ginchiyo lagi.

“Tunggu…darimana kalian tahu kalau anak-anak kami juga terlibat!?” Tanya Shingen penasaran setengah mati karena situasi yang sama sekali belum pernah dihadapinya seperti ini.

“Kami mendapat surat dari teman kami yang bertugas bersembunyi mengawasi Orochi. Ini dia.” Ginchiyo lalu menunjukkan sebuah surat, yang tidak lain dikirim oleh Fu Xi, Nu Wa dan Taigong Wang yang mengabarkan bahwa mereka terpencar dan bersama beberapa anak-anak manusia.”Biar kutebak…anak-anak kalian pergi outbond ke desa Sukagaje kan?”

Parah ayah mengangguk.

“Tepat sekali.” Ginchiyo tersenyum puas.

Tiba-tiba, seekor burung datang ke tempat mereka. Bulunya merah seperti api, namun indah. Terbangnya sangat cepat, tahu-tahu sudah mendarat di bahu Motochika. Mystic yang menyamar jadi guru seni musik itu pun segera membuka surat yang dibawa burung itu.

“Phoenix?” kata Mitsuhide.

“Jadi…burung mitos itu memang ada ya?” Tanya Liu Bei.

“Tidak Cuma Phoenix. Semua makhluk mitos di dunia kalian, semuanya benar-benar ada di Dunia Mystic. Dulunya para makhluk ini memang hidup di dunia manusia, namun Raja Dunia Mystic segera mengambil mereka ke dunia kami karena takut akan populasi manusia bumi yang tumbuh sangat cepat. Juga kerusakan alam yang kalian perbuat…” jelas Motochika.

Sebagai manusia bumi, Liu Bei, Cao Cao, Shingen dan Uesugi merasa malu dikritik seperti itu.

“Apa isi suratnya?” Tanya Toshiie.

Motochika membacanya, lalu mengerutkan dahi. Setelah itu ia mengulang berita dari surat itu,”Teman kita yang bertempur di Kota A sedang berhadapan dengan Phantom Soldier. Tidak terdengar bagus untuk sekarang.”

“Kan gampang aja! Tinggal ngalahin yang membangkitkannya kan?” kata Toshiie.

“Masalahnya, Kotarou Fuma; yang membangkitkan Phantom Soldier; menghilang dan tidak diketahui dimana. Teman-teman kita sekarang dikepung oleh ratusan pasukan Orochi dan Phantom Soldier. Akan sulit bagi mereka.”

“Ugh…sial.”

“Kita tidak punya waktu! Ayo bergerak, semuanya!” perintah Zuo Ci.

Lalu, setelah pamit, Ginchiyo, Motochika, Zuo Ci dan Toshiie segera menuju ke Kota A.

“Anda tidak ikut, Pak Akechi?” Tanya Shingen.

“Tidak. Akan lebih aman kalau saya tetap disini. Untuk menghindari kemungkinan terburuk, yaitu terbukanya Gerbang Neraka di kota ini. Jika saya tetap di sini, saya akan lebih mudah bertindak. Sebagai penjaga Gerbang Neraka, hanya saya yang bisa menutupnya lagi.” Jelas Mitsuhide dengan ekspresi yang datar.

***

Di Kota A…para mystic tengah bertarung.

“Kojiro…Sudah kau kirim?” Tanya cewek mystic yang menggunakan payung sebagai senjatanya.

“Ya. Dan sepertinya sudah sampai. Tinggal tunggu mereka tiba kesini. Hyah!!” Jawab mystic yang bernama Kojiro Sasaki sambil menyerang.

“Okuni…apakah kau punya ide, kira-kira kemana si Kotarou Fuma itu pergi?” Tanya mystic yang berbadan besar ke sini cewek berpayung itu.

“Hm, aku juga tidak tahu, Goemon-kun.” Jawab Okuni sambil memegang dagunya.

“Mungkin mereka takut pada diriku yang indah dan cantik ini…” kata Kojiro dengan tampang yang aduhai, bikin orang-orang pengen muntah.

“Hentikan…kau itu laki-laki. Menjijikkan!” kata Okuni sweatdrop.

“What!? Coba ulangi!!” Kojiro ga terima.

“Men-ji-jik-kan!! Puas??” balas Okuni lagi.

“Sudah, kalian berdua!” seorang pria yang terlihat paruh baya (tapi ga tau juga umur sebenarnya berapa. Mystic, sih…) mengehentikan pertengkaran ga penting ini.

“Maaf, Sakon-san…” kata Kojiro dan Okuni tertunduk.

“Situasi ini gawat. Kita hanya bisa menyerang pasukan Orochi, tapi tidak Phantom Soldier. Apalagi…kita kalah jumlah.” Kata Sakon, sambil menghindari serangan dari Phantom Soldier.

“Jadi bagaimana?” Tanya seorang wanita. Namanya Zhu Rong. “Aku mulai bosan menunggu Ginchiyo. Padahal kami sudah lama nggak ketemu, jadi kangen.”

Lalu, seorang lagi yang berbadan besar; Meng Huo; juga bicara,”Sayangku, bukan saatnya berkata begitu.”

“Ah…maaf, sayang…” balas Zhu Rong dan lalu mereka berdua berpelukan.

Sambil sweatdrop, Okuni bilang,”Ini juga bukan saatnya untuk melakukan hal itu!!”

Sakon berkata dalam hati,”Cih…ini gawat. Selain itu…bagaimana kabarnya mereka yang di hutan ya? Firasatku tidak enak begini…Aagh!! Aku harus kuat!!”

Seraya mengacungkan pedang, Sakon berteriak,”Semuanya!! Tidak perlu berpikir lama! Hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah, SERBU!!! Pertahankan kota ini!!!”

“YAAA!!!” jawab para mystic bersemangat.

“Hm…berani juga.” Kata Sima Yi di pihak musuh. “MAJUUUU!!!”

Dan, bentrokan pun semakin dashyat…

***

Kembali di hutan. Saat Zhao Yun dkk hampir sampai ke Hutan Utara, mereka dicegat Sun Wukong dan pasukannya. Keadaan pun jadi buruk…

Zhao Yun, Yukimura dan Masamune sudah terbaring kehabisan tenaga. Kini yang tersisa, tinggal Lu Bu dan Taigong Wang. Namun, keadaan mereka juga sudah tidak begitu baik. Apalagi Taigong Wang, fisiknya sudah sangat melemah dibanding Lu Bu.

“Si…sial…uhuk!” Zhao Yun berusaha bangkit, tapi tubuhnya tidak mengijinkan.

“Sekarang harapan kita Cuma Lu Bu!! Sialan…” kata Yukimura. Ia lalu bersama Zhao Yun dan Masamune langsung teriak sekuatnya,”Ayo, Lu Bu sial!! Sebenarnya kesel sih, tapi sekarang Cuma lo yang bisa diandelin!!”

“Berisik…” gerutu Lu Bu.

“Aku tidak dianggap ya?” Taigong Wang sweatdrop.

“Maaf saja, tapi sebentar lagi juga kau rubuh.” Kata Yoshitsune dengan tulus tanpa rasa tidak berdosa. Mystic tak berdaya itu langsung sweatdrop.

“Sial…sekarang, dimana dia!?” Lu Bu berusaha berdiri tegap.

“Tidak tahu…gerakannya sangat cepat. Andai aku bisa berkonsentrasi, aku bisa menemukannya.” Kata Taigong Wang berusaha bangkit.

Sambil berusaha berdiri sebisa mungkin, Taigong Wang berpikir,”Hawa panas ini, membuatku sulit konsentrasi memusatkan pikiran. Cih…kalau begitu…tidak ada cara lain, selain sihir pengikat!! Energiku masih tersisa, walau hanya sekitar 40%.”

Taigong Wang lalu menyatukan kedua tangannya, dan membaca mantera. Belum selesai manteranya, tiba-tiba…

“Percuma.” Sun Wukong tiba-tiba sudah ada didepan Lu Bu dan Taigong Wang!! “Rasakan!!”

DUAAAAKKH!!

Dalam sekejap, mereka berdua terlempar dan menghantam tanah dengan keras. Mereka terguling cukup jauh. Dalam sekejap, Lu Bu tidak bisa bangkit lagi, dan Taigong Wang muntah darah. Kini, tidak ada siapapun yang bisa menghadapi Sun Wukong.

“HAHAHAHA!! Tak kusangka kalian begitu mudah masuk dalam perangkapku! Sekarang, tidak ada lagi yang bisa bangkit. Yah, tadinya aku akan membiarkan kalian mati terbakar, tapi sepertinya itu tidak menyenangkan…jadi…” Sun Wukong langsung berlari, hendak menyerang anak-anak yang sudah tidak berdaya.

“MATILAH!!!”



Zhao Yun dll sudah tidak bisa berbuat apa-apa, selain terbaring lemas menunggu nasib…


Tapi…


“KUSANAGI!!!”

BWUUUUSSSHH!!!

Sun Wukong tiba-tiba terlempar jauh oleh angin yang besar!!

“Holy Spell, Rain!!”

Tiba-tiba turun hujan, dan dalam sekejap api yang membakar hutan pun padam.

Sun Wukong kebingungan. Tiba-tiba, di depannya muncul seorang wanita yang bergerak sangat cepat.

“Holy Ice, Lock!!”

Badan Sun Wukong terbungkus es sehingga tidak bisa bergerak.

“Cih…sialan, Nu Wa!!” siluman monyet itu langsung memberi perintah,”Pasukan!! Serbu!!!”

Sebelum pasukan itu sampai mendekati anak-anak, lagi-lagi muncul seseorang.

“Dragon Curse!!”

Di tubuh semua pasukan Sun Wukong muncul tato naga, dan…

“Spread Death!!”

CTIIIKK

JRAAAAAASSHH!!!

Hanya sesaat, pasukan musuh tumbang.

“Akiraaa…” geram Sun Wukong. Tiba-tiba, muncul 2 orang dari belakangnya dan langsung menyerangnya hingga terpental lagi sampai es di tubuhnya hancur.

“Rasakan, dasar monyet!!” ternyata, itu Cao Pi dan Naoe.

Zhao Yun dll yang terbaring lemas benar-benar lega. Bantuan datang di saat yang sangat tepat.

Kini, 3 kelompok yang terpencar telah kembali bersatu.

“Zhao Yun! Yukimura! Masamune!” anak-anak se-geng yang telah reuni lagi sangat senang. Mereka menghampiri kawan-kawan mereka yang terbaring di tanah.

“Ng…Lu Bu…” anak-anak secara reflex mundur selangkah begitu ngeliat dia.

“Siapa dia?” Tanya Zhou Yu sambil melihat ke Yoshitsune.

“Oh…dia penduduk sini, tapi dia sudah banyak membantu. Namanya Yoshitsune Minamoto. Sekarang, dia ikut kita berjuang.” Jawab Zhao Yun. “Dan dia?”

“Ah ya, ini Akira Ryusei. Kami bertemu dengannya begitu menuju ke tempat Naoe, lalu kami terpisah dengan kalian gara-gara Kiyomori dan Sun Wukong menyerang.” Cerita Zhou Yu. Akira menundukkan badan dan mengucapkan salam kenal.

“Namamu, Yoshitsune? Kau tidak apa-apa? Mari kubantu.” Kata Lu Xun sigap.

“Ah…senang kalian di sini, teman-teman…” kata Yukimura terbata-bata.

“Jangan banyak bicara dulu.” Kata Kunoichi menghampiri.

“Dengan ini, kita bisa membuat kekuatan yang lebih besar lagi untuk melawan Orochi.” Kata Masamune semangat.

Di tengah reuni yang sangat melegakan itu, mendadak Nu Wa berteriak,”Taigong Wang!!”

“Hei!! Kau dengar aku!?” Fu Xi juga teriak.

“Ada apa?” Tanya Cao Pi.

“Taigong Wang…dia…sekarat!!” Nu Wa gemetaran sambil menahan air mata.

“Apa!?”

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

Please, you can`t die! We still have a goal that must be reached! And you had said that you will not die before we done! Please, please…open your eyes…I beg you…

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~

Kita bisa merubah takdir, tapi ada takdir yang tidak dapat kita ubah. Contohnya, kematian…

Dengan sihir penyembuhnya, Nu Wa berusaha menyelamatkan Taigong Wang sambil berlinangan air mata.

Fu Xi memangku teman lamanya itu sambil berharap suatu keajaiban terjadi.

Anak-anak mengelilinginya, setia menunggu Taigong Wang membuka mata dan bernafas normal.

Akira mulai geram. Ia berjalan menuju Sun Wukong yang sudah lemah, lalu menyerangnya habis-habisan.

"SIALAAANN!!" teriak Sun Wukong.

"Ini balasanmu, Wukong. Kau pikir membunuh itu menyenagkan? Fufufu, memang benar...dan aku akan membuktikan kecintaanku pada membunuh padamu sekarang..." kata Akira menebarkan aura kematian. Dan saat itu, Akira yang khas dengan senyum di wajahnya, kini membuka matanya, memelototi Sun Wukong seperti layaknya pembunuh berdarah dingin...

Akhirnya, siluman monyet itu tidak bisa berkutik, dan akhirnya benar-benar mati di tangan Akira. Anak-anak hanya menyaksikan kejadian itu tanpa berani mendekati Akira yang pada saat itu jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.

Sementara Taigong Wang sendiri…sedang berada jauh di alam bawah sadarnya, bertarung melawan musuh yang jauh lebih kuat dari Orochi, yaitu…`kematian`.

“Serangan Sun Wukong…tepat mengenai organ vitalnya…tidak…Taigong…kumohon, jangan pergi dulu…” isak Nu Wa, sambil terus mengeluarkan sihir penyembuh miliknya tanpa peduli dengan dirinya sendiri yang bisa saja kehabisan tenaga.

Sementara itu, di Kota R. Mitsuhide kedatangan tamu.

“Selamat malam, Penjaga Pintu Neraka.” Sapa Kotarou.

“Kotarou Fuma…begitu. Jadi kau menghilang supaya tidak diserang para mystic dan Phantom Soldier-mu tidak hilang.” Balas Mitsuhide.

“Bingo. Aku datang kesini, untuk membunuhmu. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menutup Gerbang Neraka.” Kotarou mengambil kuda-kuda.

“Kalau begitu, keputusan ceroboh, Kotarou. Kau yang akan mati di tanganku.” Mitsuhide mencabut pedangnya. “Kalian, mundurlah.”

Cao Cao, Liu Bei, Shingen dan Uesugi mundur. Mereka akan menjadi penonton pertarungan yang akan dimulai sebentar lagi….

~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~


---TBC---

Fufufu...bagaimana??
Mohon comment-nya~!
^__^v

Arigatou~~


No comments:

Post a Comment